PAD Kecil, Pemko Payakumbuh Kurang Kreatif, Potensi Wisata Diabaikan

Sumbarheadline– Dalam sebuah pemberitaan, salah satu pejabat Dinas Perhubungan Kota Payakumbuh merasa pesimis pendapatan asli daerah (PAD) yang berasal dari retrebusi parkir akan mencapai target.

Menurutnya target yang dibebankan sebanyak Rp 2 Milyar dari retrebusi parkir di tahun 2025 ini sulit tercapai diakibatkan kondisi pasar sebagi pusat perputaran uang di Kota Payakumbuh dalam kondisi sepi.

Bacaan Lainnya

Tambahnya lagi, walaupun telah dibuka dua lokasi titik perparkiran demi menunjang PAD, dirinya tetap merasa pesimis jika target akan tercapai, ungkapnya kepada para awak media.

Terkait pengakuan dari salah satu pejabat Dishub tersebut menurut para pengamat kebijakan publik tidak ada salahnya. Pengamat menilai si pejabat telah berani berkata jujur dan apa adanya sesuai dengan kondisi reel ekonomi pasar memang dalam kondisi lesu akibat kebijakan efisiensi yang diterapkan pemerintah pusat terhadap daerah yang berimbas langsung pada perputaran perekonomian daerah.

“Benar apa yang dikatakan oleh salah seorang pejabat Dishub tersebut mengingat kondisi ekonomi sedang lesu sehingga membuat orang malas masuk pasar,” ungkap Haji Tasrif yang akrab dipanggil om Sai, Selasa (12/8/25) malam.

Namun tentu saja dengan kondisi tersebut Pemko tidak boleh menyerah dan hanya berkeluh kesah saja, imbuhnya lagi mengatakan.

Dijelaskannya, terkait PAD pemerintah kota harus kreatif mencari peluang pemasukan lain disamping pengelolaan perparkiran serta BUMD. Selama ini Pemko kurang kreatif akibat dimanjakan Pemerintah Pusat dengan cukup besarnya mendapatkan transferan anggaran.

Akan tetapi ketika muncul kebijakan terkait Intruksi Presiden (Inpres) Nomor 1 Tahun 2025 tentang efisiensi dan pengoptimalan aset daerah dengan ditindak lanjuti oleh Mentri Keuangan dengan mengeluarkan kebijakan pemangkasan anggaran, Pemko Payakumbuh yang PAD nya kecil kelabakan dan berimbas langsung pada perputaran perekonomian masyarakat, tuturnya.

Om Sai memaparkan harusnya Pemko bergerak cepat melakukan penyesuaian demi keselarasan fiskal keuangan pusat dan daerah. Salah satunya meningkatkan PAD daerah dengan mencari peluang yang berpotensi pemasukan bagi daerah.

Adapun salah satu peluang yang bisa ditangkap dan berpotensi menambah pemasukan, ungkapnya lagi adalah potensi wisata. Pengamat kebijakan sosial tersebut melihat jika keberadaan kota Payakumbuh sebagai pintu gerbang masuk Sumatera Barat bagi warga Riau memiliki nilai keuntungan tersendiri.

Dijelaskannya dari berbagai lembaga survai menyebutkan jika warga Riau satu hari dalam seminggu dihari biasa hobi liburan akhir pekan ke daerah yang beriklim sejuk dengan pesona pemandangan alamnya.

Melihat potensi tersebut sudah seharusnya Pemko Payakumbuh menangkap peluang sebagai pemasukan bagi daerah dengan mengembangkan dan mengelola aset wisata dengan profesional.

Adapun salah satu contoh aset wisata bernilai sejarah mahal yakni jembatan Ratapan Ibu yang membelah Kota Payakumbuh. Disamping memiliki historis sejarah, jembatanbteraebut memiliki keunikan tersendiri yang jarang dimiliki oleh daerah lain.

Harusnya keberadaan jembatan Ratapan Ibu yang juga memiliki taman bermain tersebut bisa dikelola dan disulap dengan serius oleh Pemko sebagai mahnet penarik bagi orang luar daerah untuk datang.

Menurut om Sai, Pemko bisa menyulap jembatan Ratapan Ibu menjadi salah satu ikon destinasi wisata baru. Jembatan yang memiliki air terjun bisa dijadikan sebagai salah satu rekreasi wisata air jika dilakukan pengerukan serta pengedaman. Selain itu taman yang ada di kawasan bisa didirikan kios kios kopi tempat bersantai  dari sore hingga malam hari. Namun tentu saja disekitaran taman diberi hiasan lampu warna warni agar menarik bagi pengunjung.

Yang tak kalah penting lagi ungkapnya, di tengah taman didirikan pentas seni dan kreasi bagi anak anak muda untuk menyalurkan hobi mereka baik itu grub band, puisi maupun kesenian tradisonal lainnya. Karena hal tersebut disamping bisa mneyalurkan bakat generasi muda di bidang seni juga penambah daya tarik pengunjung untuk datang ke lokasi.

Jika itu bisa terealisasi, maka diyakini perekonomian masyarakat bisa bangkit, lapangan pekerjaan akan terbuka dengan sendirinya, minimal bagi pemasukan perparkiran itu sendiri bagi penunjang PAD daerah.

Akan tetapi hari ini potensi wisata tersebut masih terabaikan oleh Pemko itu sendiri, tutup om Sai panjang lebar. (AA)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *